Berita Ekonomi
Beranda / Ekonomi / Rupiah Kembali Melemah di Tengah Tekanan Sentimen Global

Rupiah Kembali Melemah di Tengah Tekanan Sentimen Global

Rupiah Kembali Melemah di Tengah Tekanan Sentimen Global
Rupiah Kembali Melemah di Tengah Tekanan Sentimen Global

Nilai tukar rupiah kembali melemah pada penutupan perdagangan Selasa (14/4/2026) sore. Mata uang rupiah turun 22 poin ke posisi Rp 17.127 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.105 per dolar AS.

Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa rupiah sempat mengalami tekanan lebih dalam hingga melemah 50 poin, sebelum akhirnya mampu mengurangi pelemahan menjelang penutupan pasar.

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 22 poin sebelumnya sempat melemah 50 poin di level Rp 17.127 dari penutupan sebelumnya di level Rp 17.105,”

Ia menilai pergerakan rupiah masih dipengaruhi sentimen pasar yang cenderung waspada. Meski begitu, rupiah berhasil memperkecil tekanan pada akhir sesi perdagangan.

Menurutnya, faktor global dan eksternal masih menjadi pendorong utama fluktuasi nilai tukar rupiah dalam jangka pendek.



Ketegangan AS-Iran dan Dampaknya ke Pasar Energi

Ia juga menjelaskan bahwa adanya indikasi dialog antara Amerika Serikat dan Iran sempat meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi, khususnya terkait blokade di Selat Hormuz.

Sebelumnya, militer AS menyatakan rencana memperluas blokade hingga mencakup Teluk Oman dan Laut Arab. Data pelacakan kapal menunjukkan adanya kapal yang berbalik arah sejak kebijakan tersebut mulai diberlakukan.

“Sebagai tanggapan, Iran mengancam akan menargetkan pelabuhan di negara-negara yang berbatasan dengan Teluk setelah runtuhnya pembicaraan akhir pekan di Islamabad yang bertujuan untuk menyelesaikan krisis tersebut,”

Dilansir dari Liputan6, sumber yang mengetahui proses negosiasi menyebutkan bahwa komunikasi antara Iran dan AS masih terus berjalan.

Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan bahwa upaya meredakan ketegangan terus dilakukan. Presiden AS Donald Trump juga menyatakan bahwa Iran “ingin membuat kesepakatan”.

Di sisi lain, negara sekutu NATO seperti Inggris dan Prancis memilih tidak terlibat dalam aksi blokade dan justru mendorong dibukanya kembali jalur pelayaran penting tersebut.




Menteri Energi AS Chris Wright menyampaikan bahwa harga minyak berpotensi mencapai puncaknya dalam beberapa pekan ke depan, seiring dengan normalisasi distribusi melalui Selat Hormuz.

“Dana Moneter Internasional, Bank Dunia, dan Badan Energi Internasional mendesak negara-negara untuk menghindari penimbunan pasokan energi atau memberlakukan pembatasan ekspor di tengah apa yang mereka gambarkan sebagai guncangan paling signifikan yang pernah terjadi di pasar energi global,”

Pelaku Usaha Tahan Ekspansi, Fokus ke Sektor Tahan Krisis

Di tengah terhentinya negosiasi antara AS dan Iran, pelaku usaha cenderung menunda ekspansi besar yang membutuhkan investasi tinggi. Fokus kegiatan bisnis kini lebih diarahkan pada efisiensi dan peningkatan kinerja operasional.

Investasi juga mulai bergeser ke sektor yang lebih tahan terhadap gejolak, seperti pangan, energi, dan digital.

“Sejumlah faktor yang memengaruhi keputusan ekspansi antara lain ketidakpastian geopolitik global, volatilitas harga energi dan logistik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, melemahnya permintaan global, serta biaya pembiayaan yang relatif tinggi. Kondisi tersebut berdampak pada perhitungan risiko dan imbal hasil investasi,”

Dari sisi penjualan, performa masih cenderung stagnan dalam waktu dekat. Namun, terdapat peluang perbaikan pada semester II 2026, selama tidak terjadi eskalasi konflik global lebih lanjut.

Konsumsi domestik tetap dinilai sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi, meskipun daya beli masyarakat perlu terus dijaga.



Kesimpulan

Rupiah melemah akibat tekanan faktor global, terutama ketegangan geopolitik dan ketidakpastian pasar, meski sempat membaik di akhir perdagangan.

Sumber Referensi

https://www.liputan6.com/bisnis/read/6316220/rupiah-kembali-melemah-selasa-14-april-2026-investor-cenderung-hati-hati

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bagikan