Nabi dan Rasul diutus Allah ta’ala terutama untuk membimbing manusia menuju tauhid (mengesakan Allah), memperbaiki akhlak, serta menjadi pembawa kabar gembira dan peringatan agar manusia bahagia di dunia dan akhirat. Mereka berperan sebagai perantara wahyu, menegakkan hujjah (bukti), dan membawa rahmat bagi seluruh alam.
Di dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
“Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).
Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yaitu agama Islam, merupakan agama yang sempurna untuk seluruh umat manusia sepanjang masa.
Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merupakan Rasul akhir zaman, Rasul terakhir dan penutup para nabi, yang diutus oleh Allah untuk seluruh umat manusia tanpa melihat asal suku dan bangsanya. Misi Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam antara lain adalah menyempurnakan akhlak manusia.
Begitulah, maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam diutus di tengah-tengah masyarakat pada zaman jahiliyah. Saat itu, akhlak dan perilaku masyarakat sangat biadab, penuh dengan penyembahan pada berhala, pengagungan manusia atas manusia lainnya, perbudakan, penuh dengan pertikaian dan penguasa yang menindas.
Begitulah, Allah mengutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dilengkapi dengan perilaku (akhlak) yang mulia dan menjadi teladan terbaik bagi umatnya.
Keagungan akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi wasallam, Allah sebutkan di dalam ayat:
وَإِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung”. (QS Al-Qalam: 4).
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS Al-Ahzab: 21).
Istri baginda Nabi, ‘Aisyah sendiri menyebut akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah Al-Qur’an. Maka, siapa saja yang menginginkan kehidupan di dunia hingga akhirat berjalan baik dan selamat sebagaimana yang dikehendaki Allah. Tiada jalan lain kecuali kembali mengamalkan ajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah dalam kehidupannya sehari-hari.
Sebab Al-Qur’an diturunkan adalah sebagai petunjuk bagi orang yang bertakwa, dan dengan ketakwaan inilah kehidupan dunia hingga akhirat akan berlangsung baik dan selamat.
Firman Allah,
الم. ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ
“Alif laam miim . Kitab (Al Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa”. (QS Al-Baqarah: 1-2)
Maka, bagi siapa saja yang mengabaikan Al-Qur’an dengan memperturutkan hawa nafsunya, dia tidak akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
Allah mengingatkan di dalam ayat,
وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى. قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِي أَعْمَى وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا. قَالَ كَذَلِكَ أَتَتْكَ آيَاتُنَا فَنَسِيتَهَا وَكَذَلِكَ الْيَوْمَ تُنسَى. وَكَذَلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَى
“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?”. Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan”. Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal”. (QS Thaha: 124-127).
Akhlak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam adalah untuk terciptanya sebuah ketenteraman, kebahagian dan kesejahteraan hidup seluruh makhluk di seluruh dunia hingga akhirat.
Sebagaimana firman Allah,
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu Muhammad, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS Al-Anbiya’: 107).
Seorang muslim sudah sepatutnya meneladani akhlak Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam kehidupannya sehari-hari.
Menurut para ulama, terdapat beberapa tujuan dan hikmah mengapa Allah mengutus para nabi dan utusan. Semua tujuan dan hikmah ini merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada manusia agar mereka senantiasa berada dalam jalan kebenaran melalui bimbingan para nabi dan rasul.
Setidaknya terdapat beberapa tujuan dan hikmah mengapa Allah mengutus para nabi dan rasul.
Pertama
agar manusia menyembah Tuhan yang seharusnya disembah, yaitu Allah Swt, Tuhan pencipta langit dan bumi. Semua nabi dan utusan Allah senantiasa mengajak manusia untuk senantiasa menyembah Allah, dan menyuruh mereka untuk meninggalkan sesembahan apapun selain Allah.
Ini sebagaimana difirmankan Allah dalam surah Al-Nahl ayat 36 berikut;
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan); Menyembahlah kalian hanya kepada Allah dan jauhilah thaghut. Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya.
Juga dalam surah Al-Anbiya’ ayat 25 berikut;
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ
Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya; Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka menyembahlah kalian kepada-Ku.
Kedua
untuk menegakkan hujjah kepada manusia agar mereka tidak protes kepada Allah kelak di hari kiamat. Dengan adanya nabi dan utusan yang sudah menyampaikan ajaran Allah, manusia kelak tidak punya alasan ketika amal perbuatan mereka diadili di hadapan Allah.
Dalam surah Al-Nisa ayat 165, Allah berfirman;
رُسُلًا مُّبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ لِئَلَّا يَكُوْنَ لِلنَّاسِ عَلَى اللّٰهِ حُجَّةٌ ۢ بَعْدَ الرُّسُلِ ۗوَكَانَ اللّٰهُ عَزِيْزًا حَكِيْمًا
Rasul-rasul itu adalah sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, agar tidak ada alasan bagi manusia untuk membantah Allah setelah rasul-rasul itu diutus. Allah Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.
Ketiga
untuk menegakkan agama dan mengatur urusan dunia. Dengan adanya para nabi dan rasul, manusia menjadi tahu bagaimana caranya menyembah kepada Allah, dan bagaimana caranya menjalani kehidupan di dunia. Juga mereka dapat mencontoh para nabi dan utusan dalam menjalankan penyembahan kepada Allah dan mengatur urusan dunia.
Kesimpulan
Dalam perjalanan kehidupan sehari-hari pasti kita akan menemui berbagai macam manusia dengan segala sifat dan perilakunya. Sifat yang bermacam-macam itu kemudian terbagi lagi menjadi sifat yang baik dan buruk, kita mengenal sifat-sifat baik seperti jujur, sopan, dan lainya.
Sumber
https://banten.nu.or.id/Ubudiyyah/Mengapa-Rasulullah-Diutus-Jsp1s




