Setiap menjelang bulan suci Ramadhan, para orang tua sering kali bertanya-tanya mengenai kewajiban puasa bagi anak-anak mereka. Dikutip dari laman resmi NU Online Lampung akan diberikan penjelasan yang jelas mengenai kedudukan hukum anak kecil dalam menjalankan ibadah puasa, batasan usia, serta peran orang tua dalam memberikan edukasi keagamaan sejak dini. Anjuran memerintahkan anak kecil puasa ini disamakan dengan anjuran shalat.
Hal ini sebagaimana dikatakan Rasulullah saw:
Arab :
مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
Artinya:
Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka.
Disunnahkan Untuk Anak Berpuasa
Secara hukum syariat, puasa Ramadhan hanya diwajibkan bagi muslim yang memenuhi kriteria mukallaf, yaitu berakal dan telah mencapai usia baligh. Anak kecil yang belum baligh secara otomatis tidak terkena beban kewajiban (taklif) untuk berpuasa. Namun, Islam tidak membiarkan mereka lepas begitu saja dari tradisi ibadah.
Meskipun tidak wajib, puasa bagi anak kecil dipandang sebagai bentuk latihan (tadriib) agar kelak saat mencapai usia baligh, mereka sudah terbiasa secara fisik dan mental.
Syaikh Ibrahim Al-Bajuri dalam kitab Hasyiyatul Bajuri menjelaskan:
Arab :
قوله (والبلوغ) فلا يجب على الصبي، ثم إن كان مميزا صح منه وإلا فلا
Artinya:
Salah satu syarat wajib puasa adalah balig maka tidak wajib atas anak kecil. Kemudian jika ia sudah mumayyiz maka puasanya sah, jika belum mumayyiz maka tidak sah (Ibrahim Al-Bajuri, Hasyiyatul Bajuri, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2017], jilid I, halaman 551).
Tentang kesunahan puasa Ramadhan bagi anak kecil dijelaskan dalam kitab Al-Muhaddzab berikut ini:
Arab : قال أبو إسحاق : يلزمه أن ينوي صوم فرض رمضان ، لأن صوم رمضان قد يكون نفلا في حق الصبي فافتقر إلى نية الفرض ليتميز عن صوم الصبي
Artinya:
Abu Ishaq pendapat, wajib berniat puasa fardhu Ramadhan, karena kadang-kadang puasa Ramadhan menjadi sunnah yaitu bagi anak kecil. Niat fardhu ini sebagai pembeda dengan puasa anak kecil yang hukumnya sunnah (Abu Ishaq As-Syirazi, Al-Muhaddzab, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah: 2016], jilid I, halaman 332).
Pahala Berpuasa Anak Kecil
Walaupun belum wajib, puasa yang dijalankan oleh anak kecil yang sudah tamyiz (mampu membedakan hal baik dan buruk) tetap sah dan berpahala baginya.
Selain itu, orang tua atau wali yang mendidik dan membimbing anak tersebut juga mendapatkan pahala karena telah mengajarkan ketaatan kepada Allah SWT sejak dini.
Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad menjelaskannya dalam kitab Sabilul Idzkar:
Arab :
وأعمال الطفل من الطاعات التي تكون قبل البلوغ في صحائف أبويه من المسلمين ومهما أحسنا في تربيته والقيام عليه كما ينبغي فالمرجو من فضل الله أن لا يخيبهما من ثواب أعماله الصالحة وطاعاته بعد البلوغ بل المرجو من فضل الله أن يكون لهما مثل ثوابه
Artinya:
Amal kebaikan yang dilakukan oleh anak kecil sebelum balig akan dicatat dalam buku amalan orang tuanya yang Islam.
Bila keduanya mendidiknya dan merawatnya dengan baik, maka ada harapan dari karunia Allah Allah tidak akan menghalangi keduanya mendapatkan pahala amal saleh anaknya setelah ia dewasa, bahkan mendapatkan pahala yang sama seperti pahalanya (Abdullah bin Alawi Al-Haddad, Sabilul Idzkar wal I’tibar, [Beirut, Darul Kitab Al-Ilmiyah: 2015], halaman 224).
Kesimpulan
Puasa bagi anak tidak boleh dipaksakan hingga mengganggu tumbuh kembang atau kesehatannya. Tujuannya adalah menanamkan kecintaan pada ibadah, bukan menciptakan beban psikologis.
Dengan pemahaman hukum yang tepat, orang tua dapat membimbing anak-anak mereka menyambut Ramadhan dengan kegembiraan, sekaligus mempersiapkan generasi yang taat beribadah saat masanya tiba kelak.
Sumber
https://lampung.nu.or.id/syiar/penjelasan-tentang-hukum-puasa-bagi-anak-kecil-HHJCV




