Kemensos melalui penetapan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) untuk memetakan kondisi ekonomi dan sosial seluruh penduduk sebagai dasar penyaluran bantuan sosial (bansos). Sistem ini membagi masyarakat ke dalam 10 kelompok desil, yang mencerminkan tingkat kesejahteraan dari paling miskin (desil 1) hingga paling sejahtera (desil 10). Keluarga yang berada pada desil 6–10 umumnya tidak dianggap sebagai prioritas penerima bansos seperti Program Keluarga Harapan (PKH) atau Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT) karena dinilai berada pada tingkat kesejahteraan relatif lebih tinggi.
Artikel ini mengulas secara aktual dan informatif apa saja faktor yang membuat seseorang atau keluarga masuk ke desil 6–10, serta implikasinya dalam konteks kebijakan bantuan sosial di 2026 penting dibaca oleh masyarakat yang ingin memahami haknya dan strategi untuk memperbarui data bila diperlukan.
Apa Itu Desil dan Perannya dalam Penyaluran Bansos 2026?
Sistem desil dalam DTSEN merupakan cara pemerintah mengelompokkan warga berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi. Semakin rendah tingkat kesejahteraan, angka desil semakin kecil, sehingga peluang mendapatkan bansos semakin besar. Sebaliknya, masyarakat dalam desil tinggi (6–10) umumnya dianggap lebih mampu secara ekonomi dan tidak menjadi prioritas utama bantuan.
Pembagian desil ini menghasilkan klasifikasi obyektif yang digunakan untuk menentukan siapa saja yang berhak menerima program sosial seperti PKH, BPNT, atau bahkan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI-JK). Misalnya, bantuan pangan dan jaminan kesehatan umumnya menargetkan masyarakat dari desil 1 hingga 5; sementara desil 6–10 seringkali tidak dipilih sebagai penerima manfaat utama.
Indikator Utama yang Menentukan Desil 6–10
Dilansir dari laman kompas.com penentuan desil di dalam DTSEN dilakukan dengan mengolah banyak indikator sosial ekonomi yang mencerminkan kondisi rumah tangga maupun individu. Faktor-faktor ini memberi gambaran obyektif tentang kemampuan ekonomi keluarga.
Berikut adalah sejumlah penyebab umum seseorang masuk dalam desil 6–10:
- Pendapatan Rumah Tangga yang Lebih Tinggi
Salah satu dasar utama klasifikasi desil adalah kemampuan ekonomi keluarga secara garis besar, terutama pendapatan rumah tangga. Semakin tinggi pendapatan relatif terhadap garis ketidakmampuan, semakin tinggi posisi desilnya. Masyarakat dengan pendapatan stabil di atas rata-rata wilayahnya cenderung masuk desil menengah ke atas. - Kepemilikan Aset dan Fasilitas
Keluarga yang memiliki aset produktif atau fasilitas dasar yang baik, seperti rumah layak, kendaraan, peralatan rumah tangga, serta fasilitas sanitasi dan air bersih yang memadai akan dipandang lebih mampu. Indikator ini juga memengaruhi posisi desil. - Kondisi Hunian yang Nyaman
Tingkat kenyamanan hunian, akses terhadap listrik, sumber daya air bersih, serta fasilitas publik juga menjadi bagian dari perhitungan desil. Rumah tangga yang memiliki kondisi hunian lebih baik dan fasilitas tinggal yang lengkap cenderung dipetakan pada desil lebih tinggi. - Akses terhadap Pendidikan dan Kesehatan
Keluarga dengan akses lebih baik terhadap layanan pendidikan formal dan pelayanan kesehatan cenderung berada pada kategori ekonomi yang lebih kuat dalam perhitungan desil. Hal ini karena akses tersebut mencerminkan kesejahteraan jangka panjang keluarga. - Jumlah dan Karakteristik Tanggungan Keluarga
Jumlah anggota keluarga dan karakteristik tanggungan juga memengaruhi skor kesejahteraan. Rumah tangga dengan lebih sedikit tanggungan produktif (misalnya kurang anak usia sekolah atau anggota lansia) cenderung memiliki beban ekonomi yang lebih rendah, sehingga termasukkan dalam desil yang lebih tinggi.
Alasan Desil 6-10 Tidak Mendapatkan Bansos
Penetapan kebijakan bansos pada 2026 menitikberatkan pada prinsip ketepatan sasaran. Dengan adanya DTSEN, pemerintah berusaha memastikan bahwa bantuan sosial hanya diberikan kepada keluarga yang benar-benar membutuhkan umumnya pada desil terendah. Artinya, orang yang masuk desil 6–10 dinilai memiliki tingkat kesejahteraan yang relatif lebih baik, sehingga tidak menjadi fokus utama program bantuan sosial.
Namun demikian, bukan berarti seseorang dalam desil 6–10 serta merta tidak bisa mendapatkan bantuan sama sekali. Beberapa bantuan tertentu, seperti jaminan kesehatan (PBI-JK), dapat diberikan berdasarkan kebutuhan kesehatan spesifik karena verifikasi lebih lanjut, misalnya pada kasus penyakit kronis yang memerlukan dukungan negara, meskipun desil rumah tangga lebih tinggi. Pemerintah juga telah menetapkan mekanisme reaktivasi data bagi yang mendapatkan pengecualian semacam ini.
Yang Dilakukan Jika Masuk Kategori Desil 6-10
Sistem desil terus diperbaharui melalui input data dari berbagai instansi dan survei lapangan, sehingga perubahan kondisi sosial ekonomi keluarga bisa mempengaruhi posisi desil dari waktu ke waktu.
Jika data Anda menunjukkan kondisi yang lebih menantang daripada yang tercatat, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Memperbarui data di Dukcapil apabila terjadi perubahan keluarga atau situasi ekonomi.
- Menggunakan fitur Usul & Sanggah di aplikasi atau situs resmi pengecekan bansos untuk mengoreksi informasi yang keliru.
- Melapor ke kantor Dinas Sosial setempat untuk peninjauan ulang data keluarga Anda.
Kesimpulan
Masuknya seseorang atau keluarga dalam Desil 6–10 dalam data bantuan sosial tahun 2026 menunjukkan bahwa pemerintah melihat kondisi ekonomi mereka berada pada kategori menengah ke atas menurut indikator yang telah ditetapkan dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Faktor-faktor seperti pendapatan rumah tangga, kepemilikan aset, kondisi hunian, serta akses terhadap fasilitas sosial menjadi penentu utama posisi desil ini.
Kebijakan ini bertujuan agar penyaluran bansos lebih tepat sasaran, memprioritaskan keluarga yang berada pada tingkat kesejahteraan paling rendah. Bagi mereka yang merasa posisi desilnya tidak sesuai dengan kondisi nyata, langkah pembaruan data dan verifikasi lapangan tetap tersedia sebagai opsi perbaikan.
Sumber
https://www.kompas.com/sumatera-utara/read/2025/07/11/150000088/masuk-desil-6-10-anda-tidak-lagi-layak-terima-bansos-ini


