Menjelang siklus musiman Ramadan dan Idulfitri 2026, perusahaan ekspedisi di Indonesia tengah mematangkan berbagai langkah antisipatif guna menghadapi lonjakan volume paket.
Fenomena peningkatan belanja daring, yang didorong oleh kebutuhan masyarakat akan perlengkapan ibadah, pakaian, hingga bingkisan lebaran (hampers), diprediksi akan menciptakan tekanan signifikan pada arus logistik nasional.
Proyeksi Lonjakan dan Tantangan Operasional
Sejumlah perusahaan ekspedisi terkemuka, termasuk J&T Express, JNE, hingga KAI Logistik, memproyeksikan kenaikan volume pengiriman yang signifikan, berkisar antara 30% hingga 50% dibandingkan hari biasa.
Lonjakan ini diperkirakan mulai terasa dua minggu sebelum Ramadan dan mencapai puncaknya saat periode pencairan Tunjangan Hari Raya (THR).
Tantangan utama yang dihadapi bukan hanya sekadar jumlah barang, tetapi juga batasan waktu operasional di beberapa jalur transportasi serta potensi kemacetan di jalur mudik yang dapat menghambat estimasi waktu pengiriman (Estimated Time of Arrival).
Penguatan Infrastruktur dan Kapasitas Armada
Guna memastikan layanan tetap optimal, para pelaku usaha logistik menerapkan strategi penguatan armada darat maupun udara.
Penggunaan jalur darat tetap menjadi tulang punggung distribusi, terutama di Pulau Jawa.
Sementara itu, untuk pengiriman antar-pulau, koordinasi dengan maskapai kargo diperketat guna menjamin ketersediaan ruang angkut.
Selain armada, perusahaan juga melakukan ekspansi kapasitas gudang dan menambah titik pusat penyortiran (hub) sementara untuk mempercepat proses transit barang dan mencegah penumpukan yang ekstrem di satu titik.
Transformasi Digital dan Otomasi
Pemanfaatan teknologi menjadi kunci utama dalam menghadapi musim puncak tahun 2026.
Banyak perusahaan mulai mengimplementasikan kecerdasan buatan (AI) untuk melakukan predictive analytics guna memetakan wilayah dengan potensi lonjakan paket tertinggi.
Teknologi otomasi di pusat penyortiran juga ditingkatkan untuk meminimalisir kesalahan manusia (human error) dan mempercepat durasi pemrosesan paket.
Digitalisasi ini memungkinkan pelacakan paket secara real-time yang lebih akurat, sehingga memberikan rasa aman bagi konsumen yang menunggu kiriman mereka.
Kesiapan SDM dan Manajemen Layanan
Dari sisi sumber daya manusia, perusahaan ekspedisi umumnya melakukan penambahan tenaga kerja temporer, mulai dari kurir hingga staf administrasi gudang.
Skema insentif dan pengaturan jadwal kerja (shift) yang lebih ketat diberlakukan agar operasional dapat berjalan 24 jam selama masa sibuk.
Selain itu, perusahaan mengimbau masyarakat untuk melakukan pengiriman lebih awal (sebelum minggu terakhir Ramadan) guna menghindari kepadatan sistem dan memastikan paket sampai tepat waktu sebelum hari raya.
Kesimpulan
Melalui kombinasi perencanaan matang, investasi teknologi, dan kesiapan operasional yang menyeluruh, sektor ekspedisi optimistis dapat menjaga kepercayaan pelanggan serta mendukung kelancaran ekonomi digital selama momen besar keagamaan di tahun 2026.
Sumber
https://ekonomi.bisnis.com/read/20260213/98/1952762/perusahaan-ekspedisi-antisipasi-lonjakan-paket-pada-ramadan-lebaran-2026




