Perbedaan jumlah rakaat sholat Tarawih antara 11 atau 23 rakaat sering menjadi perbincangan setiap bulan Ramadhan. Tak jarang, perbedaan ini memicu perdebatan di tengah masyarakat. Padahal, jika ditelaah dari dalil dan penjelasan ulama, persoalan ini sejatinya bersifat fleksibel dan lapang.
Artikel ini akan membahas pengertian sholat Tarawih, dalil hadis, pendapat ulama, serta kesimpulan tentang mana yang lebih utama agar kamu memahami persoalan ini secara utuh.
Apa Itu Sholat Tarawih dan Hukumnya?
Mengutip publikasi Kabpurbalingga Baznas, Sholat Tarawih adalah sholat malam yang dikerjakan secara khusus pada bulan Ramadhan. Hukumnya sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan, berdasarkan kesepakatan para ulama.
Di luar Ramadhan, sholat malam dikenal sebagai sholat tahajud. Namun di bulan Ramadhan, sholat malam memiliki keutamaan lebih besar karena menjadi bagian dari ibadah utama selain puasa.
Ibnu Rajab dalam kitab Lathoif Al Ma’arif menjelaskan bahwa seorang mukmin di bulan Ramadhan memiliki dua bentuk perjuangan besar:
- Jihad di siang hari dengan puasa
- Jihad di malam hari dengan sholat malam
Siapa yang mampu menggabungkan keduanya, akan memperoleh pahala yang besar di sisi Allah.
Apakah Sholat Tarawih Ada Batas Jumlah Rakaat?
Perdebatan sering muncul karena anggapan bahwa jumlah rakaat Tarawih harus tertentu. Padahal, para ulama menjelaskan bahwa sholat malam tidak memiliki batasan angka yang kaku.
Dalil dari Hadis Nabi
Nabi Muhammad bersabda:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَىٰ مَثْنَىٰ، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّىٰ رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّىٰ
Artinya:
“Sholat malam itu dua rakaat-dua rakaat. Jika salah seorang di antara kalian khawatir masuk waktu Subuh, maka kerjakanlah satu rakaat sebagai witir.”
(HR. Bukhari no. 990 dan Muslim no. 749)
Hadis ini menunjukkan bahwa sholat malam dikerjakan dua rakaat-dua rakaat tanpa penetapan batas maksimal jumlah rakaat.
Pendapat Ulama tentang Jumlah Rakaat Tarawih
Ibnu Abdil Barr menegaskan bahwa sholat malam tidak memiliki jumlah rakaat tertentu. Seseorang boleh mengerjakannya sedikit atau banyak, karena termasuk sholat sunnah (nafilah).
Artinya, 11 rakaat maupun 23 rakaat sama-sama dibolehkan dan memiliki dasar dalam syariat.
Mengapa Ada 11 dan 23 Rakaat?
Perbedaan jumlah rakaat Tarawih berasal dari praktik Nabi dan ijtihad para sahabat.
Praktik 11 Rakaat
Dalam beberapa riwayat, Nabi melaksanakan sholat malam dengan:
- 8 rakaat sholat malam
- Ditambah 3 rakaat witir
Total: 11 rakaat
Biasanya dilakukan dengan bacaan yang panjang dan penuh kekhusyukan.
Diriwayatkan dari Aisyah radhiyallahu ‘anha:
“Nabi ﷺ sholat Tarawih, lalu menutupnya dengan sholat witir.”
Praktik 23 Rakaat
Pada masa kepemimpinan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu, jumlah rakaat Tarawih diperbanyak menjadi 23 rakaat.
Menurut penjelasan ulama, awalnya sholat dilakukan dengan 11 rakaat dan bacaan yang sangat panjang. Karena jamaah merasa berat, rakaat diperbanyak agar bacaan lebih ringan, sehingga jamaah tetap bisa menghidupkan malam Ramadhan dengan nyaman.
Penjelasan Ibnu Taimiyah tentang Tarawih
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa:
- Tarawih 11 rakaat boleh
- 23 rakaat boleh
- Bahkan lebih dari itu pun diperbolehkan
Yang paling utama adalah menyesuaikan dengan kondisi jamaah:
- Jika jamaah kuat berdiri lama → 11 rakaat dengan bacaan panjang lebih utama
- Jika jamaah tidak kuat → rakaat lebih banyak dengan bacaan ringan lebih baik
Beliau menegaskan bahwa keliru jika menganggap Tarawih harus tepat 11 rakaat dan tidak boleh lebih atau kurang.
Mana yang Lebih Utama?
Pertanyaan “mana yang lebih benar?” sebenarnya kurang tepat. Yang lebih penting adalah kekhusyukan, konsistensi ibadah kemampuan jamaah dan Tidak menimbulkan perpecahan
Di Indonesia, ada masjid yang melaksanakan 11 rakaat dan ada yang 23 rakaat. Keduanya memiliki dasar yang kuat dalam syariat Islam.
Kesimpulan
Sholat Tarawih adalah ibadah sunnah yang tidak memiliki batasan jumlah rakaat yang kaku. Nabi ﷺ tidak menetapkan angka maksimal tertentu. Baik 11 rakaat maupun 23 rakaat sama-sama memiliki dasar dari praktik sahabat dan penjelasan ulama.
Yang terpenting bukanlah memperdebatkan jumlah rakaat, tetapi bagaimana menghidupkan malam Ramadhan dengan ibadah yang khusyuk dan ikhlas. Karena tujuan utama Tarawih adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan memenangkan perdebatan angka.
Referensi
https://kabpurbalingga.baznas.go.id/artikel/show/salat-tarawih-11-ataukah-23-rakaat/38092




