Makna 3 Semboyan Ki Hajar Dewantara yang Dikenal Bapak Pendidikan Indonesia
Setiap tanggal 2 Mei, Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional. Tanggal ini dipilih untuk menghormati kelahiran Ki Hajar Dewantara, tokoh yang dikenal sebagai Bapak Pendidikan Indonesia. Salah satu warisan beliau yang paling berpengaruh adalah tiga semboyan pendidikan yang hingga kini masih relevan dan menjadi pedoman dalam dunia pendidikan.
Pelajari makna 3 semboyan Ki Hajar Dewantara—Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani—yang menjadi dasar filosofi pendidikan Indonesia
Sejarah Singkat Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswa
Ki Hajar Dewantara, yang lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta, merupakan salah satu tokoh penting dalam pergerakan nasional yang memiliki kepedulian besar terhadap pendidikan rakyat Indonesia.
Pada masa penjajahan Belanda, akses pendidikan bagi pribumi sangatlah terbatas. Mengamati kondisi tersebut, beliau mendirikan lembaga pendidikan bernama Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Tujuan utama dari pendirian Taman Siswa adalah untuk memberikan kesempatan belajar bagi anak-anak pribumi tanpa adanya diskriminasi.
Taman Siswa tidak hanya berfungsi sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai wadah untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan, kemandirian, dan karakter yang kuat. Dalam proses pendidikan di Taman Siswa, Ki Hajar Dewantara merumuskan tiga semboyan yang menjadi landasan filosofi pendidikan nasional.
Makna Tiga Semboyan Ki Hajar Dewantara
-
-
Ing Ngarso Sung Tuladha – Di Depan Memberi Contoh
Semboyan ini mengisyaratkan bahwa pemimpin atau pendidik seharusnya menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Dalam konteks pendidikan, diharapkan guru dapat menunjukkan tingkah laku, sikap, dan nilai-nilai positif kepada para siswa. Dengan menjadi panutan, guru bisa membimbing mereka tidak hanya melalui kata-kata, tetapi juga lewat tindakan yang nyata.
-
Ing Madya Mangun Karsa – Di Tengah Membangun Semangat
Makna dari semboyan ini adalah bahwa seorang pemimpin atau pendidik harus mampu membangkitkan semangat dan motivasi di tengah kelompoknya. Dalam dunia pendidikan, guru berfungsi sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk aktif, kreatif, dan terlibat dalam proses belajar. Dengan menciptakan suasana yang mendukung, guru bisa membantu siswa mengembangkan potensi mereka secara optimal.
-
-
Tut Wuri Handayani – Di Belakang Memberi Dorongan
Semboyan ini menekankan pentingnya peran pendidik dalam memberikan dukungan dan dorongan kepada siswa dari belakang. Artinya, setelah siswa mencapai kemandirian, guru tetap ada untuk memberikan bimbingan dan motivasi agar mereka terus berkembang. Prinsip ini menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar proses mengajar, tetapi juga tentang mendampingi dan memotivasi siswa sepanjang perjalanan belajar mereka.



