Penentuan tanggal Lebaran menjadi perhatian besar karena setiap organisasi Islam memiliki metode tersendiri dalam menentukan awal bulan Syawal. Untuk tahun 2026 atau 1447 Hijriah, sejumlah organisasi telah memiliki perkiraan tanggal Lebaran, sementara masyarakat masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah. Perbedaan penentuan ini biasanya terjadi karena adanya perbedaan metode perhitungan antara organisasi Islam dan pemerintah. Namun pada akhirnya, keputusan resmi pemerintah tetap menjadi acuan bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia.
Berikut penjelasan mengenai perkiraan jadwal Lebaran 2026 menurut beberapa organisasi Islam sepertiMuhammadiyah dan NU, serta proses penetapan resmi oleh pemerintah.
Jadwal Lebaran 2026 Menurut Muhammadiyah
Berdasarkan Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025 yang dirilis di Yogyakarta pada 22 September 2025, diputuskan bahwa Hari Raya Idulfitri atau 1 Syawal 1447 H ditetapkan jatuh pada hari Jumat Legi, 20 Maret 2026 M. Penetapan ini didasarkan pada hasil hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani oleh Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Penetapan ini mengacu pada prinsip, syarat, dan parameter Kalender Hijriah Global Tunggal yang merupakan hasil Musyawarah Nasional XXXII Tarjih Muhammadiyah di Pekalongan pada tahun 2024.
Perkiraan Lebaran Menurut NU
Berbeda dengan Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama atau NU menggunakan metode rukyatul hilal dalam menentukan awal bulan Hijriah. Metode ini dilakukan dengan cara mengamati langsung munculnya hilal atau bulan sabit pertama setelah matahari terbenam pada akhir bulan Ramadan. Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LF PBNU) telah merilis data terkait posisi hilal yang menjadi penentu awal Idul Fitri 1 Syawal 1447 H. Berdasarkan perhitungan falakiyah pada 29 Ramadan 1447 H atau 19 Maret 2026, posisi hilal memang sudah berada di atas ufuk. Namun demikian, posisinya dinilai belum memenuhi kriteria imkanur rukyah yang menjadi acuan dalam penentuan awal bulan.
Dilansir dari NU Online, ketinggian hilal tertinggi tercatat berada di Kota Sabang, Provinsi Aceh. Di wilayah tersebut, tinggi hilal mar’i mencapai 2 derajat 53 menit dengan elongasi hilal haqiqi sekitar 6 derajat 09 menit, sementara lama hilal terlihat selama 14 menit 44 detik.
Sementara itu, ketinggian hilal terendah berada di Merauke, Provinsi Papua Selatan. Di daerah ini, tinggi hilal mar’i hanya sekitar 0 derajat 49 menit, dengan elongasi hilal haqiqi 4 derajat 36 menit, serta lama hilal sekitar 6 menit 36 detik.
Dalam data tersebut juga dijelaskan bahwa posisi Matahari saat terbenam berada di 0 derajat 33 menit 01 detik selatan dari titik barat. Sedangkan posisi hilal berada di 3 derajat 33 menit 03 detik selatan dari titik barat, dengan kedudukan hilal sekitar 3 derajat 00 menit 02 detik di selatan Matahari dan condong ke arah utara. Berdasarkan data tersebut, terdapat kemungkinan bulan Ramadan akan disempurnakan menjadi 30 hari (istikmal) karena posisi hilal belum memenuhi kriteria imkanur rukyah. Dengan kondisi ini, Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Menunggu Keputusan Resmi Pemerintah
Kepastian mengenai tanggal Idul Fitri masih menunggu keputusan resmi dari pemerintah. Nahdlatul Ulama juga masih menantikan hasil sidang isbat yang akan digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag) pada Kamis, 19 Maret 2026 setelah salat Maghrib. Keputusan dari sidang tersebut nantinya akan menjadi penetapan resmi awal Syawal di Indonesia.
Sidang isbat diadakan pada tanggal 29 Ramadan. Dalam sidang ini, pemerintah akan menggabungkan dua metode sekaligus, yaitu perhitungan astronomi (hisab) dan laporan hasil pengamatan hilal (rukyat) dari berbagai daerah. Sidang tersebut juga melibatkan berbagai pihak, seperti perwakilan organisasi Islam, para ahli astronomi, dan lembaga terkait. Setelah semua data dan laporan dikaji bersama, pemerintah akan menetapkan secara resmi kapan tanggal 1 Syawal. Hasil sidang isbat kemudian diumumkan kepada masyarakat melalui konferensi pers dan siaran media. Keputusan inilah yang biasanya dijadikan pedoman bagi masyarakat luas di Indonesia dalam merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Sumber referensi
https://suaramuhammadiyah.id/read/muhammadiyah-tetapkan-awal-ramadhan-idul-fitri-dan-idul-adha-1447-h-2026-m




