Setiap bulan Ramadan menyimpan malam istimewa yang penuh berkah, yaitu Lailatul Qadar. Malam ini dikenal sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan, di mana pahala ibadah dilipatgandakan dan doa-doa lebih mudah dikabulkan.
Banyak umat Muslim menantikan kehadiran malam Lailatul Qadar untuk meningkatkan ibadah, berdoa, dan berdzikir. Simak penjelasan berikut mengenai kapan Lailatul Qadar jatuh beserta detail penting yang perlu diketahui.
Lailatul Qadar: Tanggal, Petunjuk, dan Amalan di Malam Penuh Berkah
Lailatul Qadar menjadi salah satu momen yang sangat dinantikan oleh umat Muslim. Mengapa demikian? Sebab Al-Qur’an dan hadis Rasulullah SAW menyebutkan bahwa malam ini lebih baik dari seribu bulan.
Hal ini tercantum dalam Surah Al-Qadr ayat 1-5:
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ، تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ، سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (Q.S. Al-Qadr [97]: 1-5)
Dari ayat ini, jelas bahwa Lailatul Qadar adalah malam penuh kemuliaan, di mana umat Muslim berkesempatan memperoleh ampunan dan pahala yang berlipat.
Tanggal Lailatul Qadar
Menurut para ulama, tidak ada kepastian waktu pasti datangnya Lailatul Qadar. Hal ini sesuai hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan Abu Dawud:
“Lailatul Qadar ada pada setiap bulan Ramadhan.” (HR. Abu Dawud)
Rasulullah SAW mendorong umatnya untuk mencari Lailatul Qadar sebagai motivasi agar lebih giat beribadah, berdoa, dan mengerjakan amal baik.
Meski waktu pastinya tidak disebutkan, Rasulullah SAW memberikan beberapa petunjuk:
Pada sepuluh malam terakhir Ramadan
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: “Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan.” (HR. Bukhari)
Di malam-malam ganjil
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
Artinya: “Carilah Lailatul Qadar di malam ganjil dari sepuluh malam terakhir di bulan Ramadan.” (HR. Bukhari)
Di tujuh malam terakhir
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ – يَعْنِى لَيْلَةَ الْقَدْرِ – فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلاَ يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِى
Artinya: “Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir, namun jika ditimpa keletihan, janganlah dikalahkan pada tujuh malam yang tersisa.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain
الْتَمِسُوهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى تَاسِعَةٍ تَبْقَى ، فِى سَابِعَةٍ تَبْقَى ، فِى خَامِسَةٍ تَبْقَى
Artinya: “Carilah Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadan pada sembilan, tujuh, dan lima malam yang tersisa.” (HR. Bukhari)
Pada malam ke-27
وَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُ أَيُّ لَيْلَةٍ هِيَ هِيَ اللَّيْلَةُ الَّتِي أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم بِقِيَامِهَا هِيَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ
Artinya: “Demi Allah, aku tahu kapan malam itu, yaitu malam yang diperintahkan Rasulullah untuk dihidupkan, yaitu malam kedua puluh tujuh.” (HR. Muslim dari Ubay bin Ka’ab)
Petunjuk Tanda-Tanda Lailatul Qadar
Mengutip situs Kementerian Agama, terdapat dua hadis yang memberikan tanda malam Lailatul Qadar:
Hadis Pertama:
هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ صَبِيحَةِ سَبَعٍ وَعِشْرِينَ وَأَمَارَتُهَا أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ فِى صَبِيحَةِ يَوْمِهَا بَيْضَاءَ لاَ شُعَاعَ لَهَا
Artinya: “Malam itu adalah malam yang cerah, yaitu malam ke-27 Ramadan. Tanda-tandanya: pada pagi harinya matahari terbit berwarna putih tanpa memancarkan sinar ke segala penjuru.” (HR. Muslim no. 762 dari Ubay bin Ka’ab)
Hadis Kedua:
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
Artinya: “Lailatul Qadar adalah malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas maupun dingin, dan pada pagi hari matahari bersinar tidak terlalu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Ath Thoyalisi dan Al Baihaqi, lihat Syu’abul Iman, Jaami’ul Ahadits 18: 361)
Namun Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menegaskan:
وَقَدْ وَرَدَ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ عَلَامَاتٌ أَكْثَرُهَا لَا تَظْهَرُ إِلَّا بَعْدَ أَنْ تَمْضِي
Artinya: “Ada beberapa dalil yang membicarakan tanda-tanda Lailatul Qadar, namun itu semua tidak nampak kecuali setelah malam tersebut berlalu.” (Fathul Bari, 4: 260)
Fokus Utama
Para ulama berpendapat, dibanding terlalu fokus mencari tanda-tanda Lailatul Qadar, lebih baik umat Islam memaksimalkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan, khususnya malam ganjil. Amalan yang dianjurkan antara lain salat sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan berdoa, agar kesempatan meraih pahala dan syafaat malam Lailatul Qadar dapat optimal.
Kesimpulan
Lailatul Qadar adalah malam yang sangat istimewa, lebih baik dari seribu bulan, di mana pahala ibadah dilipatgandakan. Waktu pastinya tidak pasti, namun Rasulullah SAW menegaskan agar umat Islam mencarinya pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama malam-malam ganjil, dengan perhatian khusus pada malam ke-27.
Sumber
https://www.detik.com/jatim/berita/d-7825322/lalilatul-qadar-jatuh-pada-tanggal-berapa-ini-detailnya



