Penentuan awal Ramadan 2026 kembali menjadi perhatian umat Islam di Indonesia. Perbedaan metode penetapan antara pemerintah, NU, dan Muhammadiyah membuat tanggal mulai puasa berpotensi tidak seragam.
Berikut penjelasan lengkap jadwal, dasar perhitungan, serta perkiraan kapan umat Islam mulai menjalankan ibadah puasa Ramadan 2026 dilansir dari laman Detik.
Penentuan Awal Ramadan di Indonesia
Awal Ramadan ditetapkan melalui pendekatan keilmuan dan keagamaan. Di Indonesia, terdapat tiga rujukan utama yang digunakan masyarakat dalam menentukan 1 Ramadan, yakni pemerintah, Nahdlatul Ulama, dan Muhammadiyah.
Metode yang Digunakan
Setiap pihak memiliki pendekatan berbeda dalam menetapkan awal bulan hijriah:
Pemerintah
Menggunakan integrasi hisab dan rukyatul hilal dengan kriteria imkanur rukyat MABIMS
NU
Mengutamakan rukyatul hilal secara langsung pada 29 Syakban
Muhammadiyah
Menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal
Perbedaan metode inilah yang memungkinkan terjadinya perbedaan awal puasa.
Berapa Hari Lagi Puasa Ramadan 2026?
Pertanyaan “berapa hari lagi puasa?” bergantung pada hasil penetapan masing-masing pihak. Perhitungannya mengacu pada pemantauan hilal pada Selasa, 17 Februari 2026.
Jadwal Versi Pemerintah
Pemerintah melalui Kementerian Agama menetapkan awal Ramadan melalui Sidang Isbat yang digelar pada Selasa, 17 Februari 2026 pukul 16.00 WIB di Auditorium H.M. Rasjidi, Jakarta.
Dalam sidang tersebut dibahas:
- Data hisab posisi hilal
- Hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah
Berdasarkan pemaparan Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah, Arsad Hidayat, posisi hilal saat matahari terbenam berada di bawah kriteria visibilitas MABIMS. Artinya, secara hisab hilal diperkirakan belum terlihat.
Kemungkinan keputusan:
- Jika hilal tidak terlihat → 1 Ramadan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026 (puasa mulai 2 hari lagi)
- Jika hilal terlihat → 1 Ramadan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026 (puasa mulai 1 hari lagi)
Jadwal Versi NU
Nahdlatul Ulama belum mengumumkan awal Ramadan sebelum pelaksanaan rukyatul hilal. Pemantauan dilakukan oleh Lembaga Falakiyah PBNU pada Selasa, 17 Februari 2026 di berbagai titik pengamatan.
Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf, menyampaikan bahwa besar kemungkinan hilal belum terlihat sehingga bulan Syakban digenapkan menjadi 30 hari.
Perkiraan NU:
- Hilal tidak terlihat → puasa mulai 19 Februari 2026
- Hilal terlihat → puasa mulai 18 Februari 2026, diawali salat Tarawih
Jadwal Versi Muhammadiyah
Berbeda dengan dua pihak lainnya, Muhammadiyah telah menetapkan awal Ramadan lebih awal. Melalui Maklumat PP Muhammadiyah Nomor 2/MLM/1.0/E/2025, ditetapkan bahwa:
- 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026
Dengan demikian, warga Muhammadiyah akan mulai berpuasa 1 hari lagi sejak 17 Februari 2026.
Dampak Perbedaan Penetapan Awal Puasa
Perbedaan awal Ramadan berdampak pada:
- Awal pelaksanaan puasa
- Jadwal salat Tarawih pertama
- Potensi perbedaan awal Idul Fitri
Namun kondisi ini sudah menjadi dinamika yang umum terjadi dan tetap dijalani dengan saling menghormati antarumat.
Kesimpulan
Awal puasa Ramadan 2026 di Indonesia berpotensi dimulai pada 18 atau 19 Februari 2026, tergantung hasil rukyatul hilal dan keputusan resmi.
Muhammadiyah telah menetapkan puasa mulai 18 Februari 2026, sementara pemerintah dan NU masih menunggu hasil pengamatan hilal. Umat Islam diimbau mengikuti keputusan sesuai keyakinan dan rujukan masing-masing.
Sumber Referensi
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-8359387/berapa-hari-lagi-puasa-ini-jadwalnya-menurut-pemerintah-nu-dan-muhammadiyah




