Harga emas dunia kembali mencatat penguatan signifikan dan berhasil menembus level 5.000 dolar AS per ons pada Rabu (4/2/2026).
Kenaikan ini terjadi setelah meningkatnya tensi geopolitik menyusul insiden penembakan drone Iran oleh Amerika Serikat (AS) di kawasan Laut Arab.
Logam mulia yang dikenal sebagai aset safe haven tersebut melonjak hingga 5.061 dolar AS per ons, setelah sebelumnya sempat terkoreksi tajam dalam beberapa hari terakhir.
Dengan capaian ini, harga emas dunia kini tercatat sekitar 80 persen lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Insiden Drone Iran Perburuk Ketegangan Geopolitik
Dikutip dari Kompas, militer AS mengonfirmasi bahwa drone milik Iran ditembak jatuh karena dinilai melakukan manuver agresif dan mendekati kapal induk Amerika di Laut Arab.
Insiden tersebut terjadi pada Selasa (3/2/2026), sementara pemerintah Iran hingga kini belum memberikan pernyataan resmi.
Sebelum kejadian ini, harga emas dunia memang sudah berada dalam tren naik akibat berbagai faktor global, seperti perubahan kebijakan perdagangan AS, konflik geopolitik yang berkepanjangan, serta meningkatnya pembelian emas oleh bank sentral. Pada Januari 2026, harga emas bahkan sempat mencetak rekor di kisaran 5.500 dolar AS per ons.
Baca Juga : PBI JK BPJS Kesehatan Tiba-tiba Nonaktif? Ini Penyebab dan Cara Mengaktifkannya Kembali
Harga Emas Sempat Anjlok Tajam Pekan Lalu
Meski kembali menguat, harga emas dunia sebelumnya mengalami tekanan besar pada Jumat (30/1/2026). Penurunan terjadi setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan pencalonan Kevin Warsh sebagai Ketua Federal Reserve menggantikan Jerome Powell.
Penunjukan tersebut dinilai pasar sebagai langkah yang menenangkan karena Warsh dianggap mampu menjaga stabilitas dan independensi bank sentral.
Sentimen positif ini membuat emas anjlok hingga 9 persen dalam satu hari, menjadi penurunan harian terbesar sejak 1983.
Baca Juga : Cek Info GTK 2026 Kemendikdasmen Terbaru dan Lengkap
Data Bloomberg menunjukkan, harga emas yang sempat berada di 4.319 dolar AS per ons pada awal Januari melonjak ke 5.563 dolar AS pada 29 Januari.
Namun, harga kemudian terkoreksi ke level 4.500 dolar AS pada 2 Februari sebelum kembali naik ke 5.061 dolar AS per ons pada 4 Februari.
Aksi Spekulan Dorong Pemulihan Harga Emas
Chief Investment Strategist Hargreaves Lansdown, Emma Wall, menilai lonjakan harga emas kali ini banyak dipengaruhi oleh aksi spekulan yang memanfaatkan koreksi harga.
Menurutnya, penurunan sebelumnya dianggap terlalu menarik untuk dilewatkan, sementara fundamental emas sebagai aset lindung nilai masih sangat kuat. Meski begitu, ia mengingatkan bahwa volatilitas harga emas dunia masih berpotensi berlanjut.
Beberapa faktor yang diperkirakan memengaruhi pergerakan harga ke depan antara lain kebijakan suku bunga AS, pemilu paruh waktu AS pada November, serta konflik yang masih berlangsung di Ukraina dan Timur Tengah.
Harga Perak Ikut Menguat
Tak hanya emas, harga perak dunia juga menunjukkan pemulihan. Pada Rabu, harga perak naik sekitar 5 persen ke level 92 dolar AS per ons.
Sebelumnya, perak mengalami tekanan lebih dalam dibanding emas, dengan penurunan hingga 27 persen dalam satu hari pada akhir pekan lalu.
Meski masih jauh dari rekor Januari di atas 120 dolar AS per ons, harga perak saat ini tetap hampir tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.
Investment strategist Quilter, Lindsay James, menilai meski harga emas dan perak sangat fluktuatif, prospek jangka panjang masih positif.
Ia menyebut bank sentral dari berbagai negara, termasuk China dan Polandia, terus menambah cadangan emas sehingga menopang harga.
Selain itu, meningkatnya kekhawatiran pasar akibat disrupsi teknologi berbasis AI terhadap sektor teknologi juga mendorong investor beralih ke aset aman seperti emas hingga kondisi pasar kembali stabil.
Kesimpulan
Harga emas dunia kembali menguat dan menembus level 5.000 dolar AS per ons seiring meningkatnya ketegangan geopolitik setelah insiden drone Iran di Laut Arab.
Meski sempat terkoreksi tajam akibat sentimen kebijakan moneter AS, emas kembali diminati sebagai aset safe haven.
Dukungan pembelian bank sentral dan ketidakpastian global membuat prospek harga emas tetap kuat, meski volatilitas masih berpotensi berlanjut.
Sumber : Kompas.com




