Datangnya bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri lahir dan batin, salah satunya dengan mandi atau keramas sebelum memulai puasa. Amalan ini bertujuan untuk membersihkan diri sekaligus menyambut Ramadan dengan kondisi yang lebih suci dan segar. Berikut ini doa mandi sebelum puasa Ramadan lengkap dengan bacaan Arab, latin, serta tata cara pelaksanaannya.
Niat Mandi Sebelum Puasa Ramadan
Mandi keramas sebelum puasa umumnya dilakukan untuk menghilangkan hadas besar. Dalam buku Fikih Wanita & Keluarga karya Syekh Ahmad Jad dijelaskan bahwa mandi wajib atau mandi junub bertujuan untuk menyucikan diri dari hadas besar, baik karena keluarnya mani, haid, maupun nifas.
Salah satu rukun utama dalam mandi wajib adalah niat, yang dibaca sebelum atau saat mulai mandi.
Niat Mandi Wajib untuk Menghilangkan Hadas Besar
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَكْبَرِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Latin: Nawaitul ghusla li raf’il hadatsil akbari fardhan lillahi ta’ala.
Artinya: “Saya niat mandi untuk menghilangkan hadas besar, fardu karena Allah Ta’ala.”
Niat Mandi Wajib karena Junub (Jinabah)
Bagi seseorang yang mandi wajib setelah mengalami syahwat atau dalam keadaan junub, niat yang dibaca adalah:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ مِنَ الْجَنَابَةِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitul ghusla lirafil hadatsil akbar minal janabati fardhlan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari jinabah, fardlu karena Allah Ta’ala.”
Niat Mandi Wajib karena Nifas
Bagi perempuan yang mengalami hadas besar karena nifas setelah melahirkan, bacaan niatnya adalah:
نَوَيْتُ الْغُسْلَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الْأَكْبَرِ مِنَ النِّفَاسِ فَرْضًا لِلَّهِ تَعَالَى
Latin:
Nawaitu ghusla liraf’il hadatsil akbar minan nifasi fardhlan lillahi ta’ala.
Artinya: “Aku niat mandi untuk menghilangkan hadas besar dari nifas, fardlu karena Allah Ta’ala.”
Niat Mandi Sunnah Sebelum Puasa Ramadan
Selain mandi wajib, ada pula mandi sunnah yang dilakukan untuk menyambut puasa Ramadan. Berikut bacaannya:
نَوَيْتُ أَدَاءَ اْلغُسْلِ اْلمَسْنُوْنِ لِيْ فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ مِنْ رَمَضَانَ لله تَعَالَى
Latin:
Nawaitu adâ’al ghuslil masnûni lî fî hadzihil lailatil min romadhona lillâhi ta’âlâ.
Artinya: “Aku berniat menjalankan mandi yang disunnahkan kepadaku pada malam ini di bulan Ramadan karena Allah Ta’ala.”
Tata Cara Mandi Wajib
Masih merujuk pada sumber yang sama, tata cara mandi wajib mencakup rukun dan sunnah berikut ini:
- Membersihkan Najis Terlebih Dahulu
Sebelum mandi wajib, dianjurkan membersihkan najis yang menempel pada tubuh. Bagi orang yang junub, disunnahkan membersihkan sisa sperma pada area kemaluan. Sedangkan perempuan yang mandi setelah haid dianjurkan membersihkan bekas darah, bahkan disarankan menggunakan kapas yang diberi minyak misik jika memungkinkan. - Berwudhu Sebelum Mandi
Berwudhu sebelum mandi wajib termasuk sunnah yang dianjurkan. Walaupun ada ulama yang mewajibkannya, mayoritas ulama berpendapat hukumnya tidak wajib. Membasuh kaki boleh dilakukan di akhir setelah mandi selesai. - Menyiram Kepala hingga Kulit Kepala
Air harus disiramkan ke kepala hingga mengenai kulit kepala, baik rambut tebal maupun tipis. Setelah itu, wajah dibasuh secara menyeluruh. - Menyiram Seluruh Tubuh Secara Merata
Seluruh tubuh disiram secara merata, dimulai dari sisi kanan kemudian sisi kiri. Pastikan air mengenai seluruh bagian tubuh, termasuk lipatan dan bagian tersembunyi. - Menggosok Anggota Tubuh
Menggosok tubuh setelah disiram air dianjurkan agar air merata. Namun, menurut mazhab Maliki, menggosok tubuh saat mandi wajib termasuk hal yang diwajibkan. - Tertib dan Berkesinambungan
Mandi wajib sebaiknya dilakukan secara berurutan dan menyeluruh. Bahkan, jika seseorang membenamkan seluruh tubuh ke dalam air setelah berniat, maka hadas besar dianggap telah hilang selama seluruh tubuh terkena air.
Doa Setelah Mandi Wajib
Dalam buku Fikih Ibadah Madzhab Syafi’i karya Syaikh Dr. Alauddin Za’tari disebutkan bahwa setelah menyelesaikan mandi wajib, disunnahkan membaca doa berikut:
أَشْهَدُ أَنْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ وَحْدَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
Latin: Asyhadu an laa ilaaha illallaahu wahdahu, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rasuuluh.
Artinya: “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan sama sekali selain Allah semata, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.”
Kesimpulan
Dengan memahami niat dan tata caranya secara tepat, ibadah puasa yang dijalankan pun menjadi lebih sempurna karena diawali dengan keadaan suci sesuai tuntunan syariat.
Sumber
https://www.detik.com/hikmah/doa-dan-hadits/d-8360753/doa-keramas-sebelum-puasa-ramadan-lengkap-bacaan-niat-dan-tata-cara




