Presiden Donald Trump kini berada di posisi sulit setelah satu bulan terlibat dalam konflik dengan Iran, Sabtu (28/3/2026). Di tengah melonjaknya harga energi dunia dan turunnya angka persetujuan publik, Trump harus menentukan pilihan antara jalur diplomasi yang berisiko atau memperpanjang eskalasi militer.
Meski diplomasi antara AS dan Israel terus berlangsung, Teheran masih menguasai arus minyak dan gas di Teluk. Serangan rudal dan drone dari Iran dilaporkan terus menyebar di seluruh kawasan Timur Tengah.
Para pengamat menyebut situasi ini sebagai “perang pilihan” yang menimbulkan gangguan pasokan energi terparah dalam sejarah. Trump berada di bawah tekanan besar untuk memutuskan apakah akan meredakan atau justru meningkatkan intensitas serangan.
Kepada para penasihatnya, Trump menyatakan ingin menghindari “perang abadi” dan lebih memilih jalur negosiasi. Seorang pejabat senior Gedung Putih menyebut presiden mendorong timnya untuk menekankan durasi permusuhan yang singkat, sekitar empat hingga enam minggu.
Namun, ancaman eskalasi militer tetap ada jika negosiasi gagal. Trump dikabarkan telah mengirim proposal perdamaian 15 poin melalui jalur tidak langsung lewat Pakistan sebagai upaya mencari solusi segera.
Dilansir dari Beritasatu sebagai antisipasi, Trump mulai menempatkan ribuan pasukan tambahan di kawasan tersebut. Ia memperingatkan Iran akan kemungkinan serangan lebih besar, termasuk penggunaan pasukan darat, jika tuntutan AS tidak dipenuhi.
Para analis memperkirakan AS bisa meluncurkan “Operasi Epic Fury”, yakni serangan udara besar-besaran untuk menonaktifkan fasilitas nuklir Iran. Setelah itu, Trump diprediksi akan menyatakan kemenangan dan menarik diri dari konflik.
Namun, rencana tersebut sulit terealisasi jika Selat Hormuz tetap ditutup. Iran masih menahan jalur vital yang menjadi urat nadi sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga memicu kejutan ekonomi global.
Di dalam negeri, posisi politik Trump semakin tertekan. Jajak pendapat terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap Trump turun hingga 36 persen, angka terendah sejak ia kembali menjabat di Gedung Putih.
“Presiden Trump memiliki pilihan yang buruk di semua sisi,” kata Jonathan Panikoff, mantan pejabat intelijen AS.
Ia menilai hasil akhir yang diinginkan belum jelas.
Jalur Diplomasi Masih Terhambat
Sementara itu, upaya diplomasi menemui kendala. Iran menilai proposal AS tidak realistis, termasuk tuntutan pembongkaran program nuklir dan pembatasan kekuatan militer.
Meski begitu, komunikasi tidak langsung masih memungkinkan. Para analis menilai Teheran merasa cukup kuat untuk bertahan dan mengeklaim kemenangan jika konflik berlarut.
Di sisi lain, sekutu AS di Teluk khawatir eskalasi lebih jauh, termasuk kemungkinan penggunaan pasukan darat. Gedung Putih menegaskan belum ada rencana pengiriman pasukan darat, namun semua opsi tetap terbuka sesuai perkembangan situasi.
Dengan sinyal kebijakan yang sering berubah antara diplomasi dan ancaman militer, Trump dinilai sengaja menciptakan ketidakpastian untuk menekan lawan.
“Trump memainkan sinyal yang kontradiktif untuk menjaga lawannya tetap tidak seimbang,” kata analis Laura Blumenfeld.
Kesimpulan
Setelah satu bulan perang dengan Iran, Presiden Donald Trump kini harus memilih antara memperluas konflik militer atau mencari solusi diplomatik, karena kedua opsi sama‑sama penuh tantangan dan risiko besar.
Sumber Referensi
https://www.beritasatu.com/internasional/2980114/sebulan-perang-iran-donald-trump-terjebak-di-antara-2-pilihan


Komentar