Salat Tarawih merupakan ibadah sunnah yang sangat dianjurkan pada malam bulan Ramadan. Setiap tahunnya, umat Islam kembali menghidupkan malam-malam Ramadan dengan melaksanakan salat Tarawih secara berjamaah maupun sendiri di rumah. Namun, sering muncul pertanyaan mengenai jumlah rakaat Tarawih yang sesuai dengan sunnah Nabi Muhammad SAW.
Sebagian ulama merujuk pada hadis-hadis sahih yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan salat malam di bulan Ramadan sebanyak 8 rakaat, kemudian ditutup dengan 3 rakaat witir.
Berdasarkan riwayat tersebut, banyak kaum Muslimin yang memilih melaksanakan Tarawih 8 rakaat dan 3 rakaat witir sebagai bentuk mengikuti sunnah beliau. Berikut penjelasan lengkap beserta dalilnya.
Penjelasan tentang Istilah Tarawih dan Jumlah Rakaatnya
Dilansir dari muhammadiyah.or.id, Ketua PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar, menjelaskan bahwa istilah tarawih sebenarnya tidak dikenal pada masa Nabi Muhammad SAW maupun pada era para sahabat. Dalam sejumlah kitab klasik seperti Al-Muwaththa karya Imam Malik dan Al-Umm karya Imam Syafi’i, istilah “tarawih” tidak ditemukan. Penyebutan istilah tersebut muncul pada periode setelahnya, di antaranya dalam karya Imam Al-Marwadzi.
Menurut Syamsul, pada zaman Rasulullah SAW, ibadah yang kini dikenal sebagai salat tarawih lebih disebut sebagai qiyam Ramadan (salat malam di bulan Ramadan). Namun demikian, berdasarkan keterangan Imam Nawawi dalam Syarah Sahih Muslim, istilah qiyam Ramadan dan salat tarawih pada dasarnya merujuk pada ibadah yang sama.
Penjelasan ini penting untuk menjawab anggapan bahwa salat tarawih dan qiyam Ramadan adalah dua ibadah yang berbeda, khususnya terkait jumlah rakaat. Sebagian kalangan berpendapat bahwa tarawih berjumlah 20 rakaat, sementara qiyam Ramadan hanya 8 rakaat. Akan tetapi, menurut Syamsul, pandangan tersebut tidak memiliki dasar hadis sahih yang kuat.
Riwayat 20 Rakaat dan Statusnya
Hadis yang kerap dijadikan rujukan untuk mendukung salat tarawih 20 rakaat berasal dari riwayat Ibnu Abbas yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dan Ibnu Abi Syaibah.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بن جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ، حَدَّثَنَا عَلِيُّ بن الْجَعْدِ، حَدَّثَنَا أَبُو شَيْبَةَ إِبْرَاهِيمُ بن عُثْمَانَ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ مِقْسَمٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً وَالْوِتْرَ. (المعجم الكبير للطبراني: 10 / 86)
“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far ar-Razi, Ali bin al-Ja’di, Abu Syaibah bin Utsman dari al-Hakam dari Miqsam dari IbniAbbas, beliau berkata: “Dahulu Nabi SAW melaksanakan shalat (tarawih) di bulan ramadlan 20 rakaat dan shalat witir”. (HR. Al-Thabarani).
Namun, mayoritas ulama hadis menilai riwayat tersebut berstatus dhaif (lemah), bahkan sebagian mengategorikannya sebagai hadis mungkar. Tidak mengherankan jika hadis ini tidak tercantum dalam kitab-kitab hadis utama seperti Sahih Bukhari, Sahih Muslim, dan Sunan an-Nasa’i.
Dasar Penetapan 11 Rakaat
Atas pertimbangan tersebut, Muhammadiyah menetapkan jumlah rakaat salat tarawih sebanyak 11 rakaat, yakni 8 rakaat tarawih dan 3 rakaat witir. Ketetapan ini merujuk pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Aisyah RA dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim.
Dalam hadis tersebut, ketika Abu Salamah Ibn Abd ar-Rahman bertanya kepada Aisyah tentang salat malam Rasulullah SAW di bulan Ramadan, Aisyah menjawab bahwa Nabi tidak pernah melakukannya lebih dari 11 rakaat.
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا كَيْفَ كَانَتْ صَلَاةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلَا تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلَاثًا
“Dari Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman (diriwayatkan) bahwa dia bertanya kepada ‘Aisyah r.a.: Bagaimana tata cara shalat Nabi saw pada bulan Ramadhan? ‘Aisyah r.a. menjawab: Beliau shalat (sunah qiyamul–lail) pada bulan Ramadhan dan bulan-bulan lainnya tidak lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat, maka jangan kamu tanya tentang kualitas bagus dan panjangnya, kemudian beliau shalat lagi empat rakaat, maka jangan kamu tanya tentang kualitas bagus dan panjangnya kemudian beliau shalat tiga rakaat.” (HR. al-Bukhari Nomor 3304).
Berdasarkan riwayat sahih ini, Rasulullah SAW menjalankan salat malam dengan pola empat rakaat salam, empat rakaat salam, dan ditutup tiga rakaat witir. Pola inilah yang menjadi dasar Muhammadiyah dalam menetapkan jumlah rakaat salat tarawih yang dinilai lebih sesuai dengan tuntunan Nabi SAW.
Kesimpulan
Perbedaan jumlah rakaat dalam praktik umat Islam sejatinya merupakan bagian dari khazanah ijtihad para ulama. Selama memiliki landasan dalil dan dilakukan dengan niat ibadah, perbedaan tersebut hendaknya disikapi dengan saling menghormati dan menjaga ukhuwah Islamiyah.
Sumber
- https://muhammadiyah.or.id/2025/02/berdasarkan-sunnah-nabi-saw-salat-tarawih-itu-8-rakaat-ditambah-3-rakaat-witir/
- Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Paham Hisab Muhammadiyah dan Tuntunan Ibadah Bulan Ramadan, (Yogyakarta: LPPI UMY, 1437/2016).




