Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, masyarakat Muslim di Indonesia memiliki beragam tradisi yang sarat nilai religius dan sosial. Salah satu tradisi yang masih terjaga hingga sekarang adalah punggahan atau yang juga dikenal dengan sebutan munggahan.
Tradisi ini menjadi bagian dari budaya Islam Nusantara dalam menyambut bulan penuh ampunan dan keberkahan.
Berdasarkan informasi yang dimuat oleh Nahdlatul Ulama melalui laman resminya, punggahan biasanya dilaksanakan sekitar satu minggu sebelum Ramadhan tiba. Kegiatan ini menjadi simbol kesiapan lahir dan batin umat Islam dalam memasuki bulan puasa.
Apa Itu Tradisi Punggahan?
Punggahan merupakan tradisi berkumpul bersama keluarga, tetangga, atau masyarakat sekitar menjelang Ramadhan. Meski sering identik dengan makan bersama, esensi punggahan jauh lebih dalam dari sekadar santap hidangan.
Di dalamnya terkandung nilai syukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu kembali dengan Ramadhan. Bulan suci ini diyakini sebagai momentum istimewa untuk meningkatkan ibadah, memperbanyak amal, serta memperbaiki diri.
Makna Spiritual Tradisi Punggahan
Tradisi punggahan mencerminkan kegembiraan dalam menyambut Ramadhan. Dalam ajaran Islam, menyambut datangnya bulan suci dengan rasa bahagia merupakan hal yang dianjurkan. Kegembiraan tersebut menjadi tanda kesiapan spiritual untuk menjalankan ibadah puasa dan memperkuat keimanan.
Selain itu, punggahan juga menjadi sarana introspeksi diri. Melalui pertemuan bersama keluarga dan masyarakat, umat Islam saling memaafkan agar dapat memasuki Ramadhan dengan hati yang bersih dan penuh keikhlasan.
Mempererat Silaturahmi dan Solidaritas Sosial
Di tengah kesibukan aktivitas sehari-hari, tradisi punggahan menghadirkan momen berharga untuk mempererat hubungan sosial. Kebersamaan yang terjalin dalam kegiatan ini memperkuat rasa persaudaraan dan solidaritas antarwarga.
Nilai kebersamaan tersebut menjadi bukti bahwa tradisi punggahan bukan hanya warisan budaya, tetapi juga media memperkokoh hubungan sosial dalam masyarakat.
Warisan Islam Nusantara yang Tetap Lestari
Hingga saat ini, punggahan tetap dipraktikkan di berbagai daerah di Indonesia. Tradisi ini menunjukkan harmonisasi antara ajaran Islam dan kearifan lokal yang tumbuh di tengah masyarakat.
Melalui punggahan, umat Islam tidak hanya mempersiapkan diri secara spiritual menjelang Ramadhan, tetapi juga membangun kebersamaan dan memperkuat ikatan sosial. Inilah yang menjadikan tradisi punggahan tetap relevan dan terus dilestarikan dari generasi ke generasi.
Kesimpulan
Dengan memahami makna dan nilai di baliknya, tradisi punggahan dapat menjadi momentum yang lebih bermakna dalam menyambut Ramadhan dengan penuh kesiapan, kebahagiaan, dan persatuan.
Sumber
https://sumutpos.jawapos.com/umum/2377195235/tradisi-punggahan-cara-masyarakat-nusantara-menyambut-datangnya-ramadan?page=2




