Mengenal Sejarah Muharram Sebagai Tahun Baru Islam
Setiap pergantian tahun adalah momen untuk merenung. Namun, Tahun Baru Islam memiliki kekhasan tersendiri yang membedakannya dari perayaan tahun baru Masehi yang sering diwarnai kemeriahan duniawi. Tahun Baru Islam lebih berfokus pada nilai-nilai spiritual, kesyukuran, dan perbaikan diri. Hal ini menciptakan suasana yang lebih khusyuk dan bermakna.
Perbedaan dalam cara merayakan tahun baru ini bukan sekadar gaya, melainkan cerminan mendalam dari nilai budaya dan agama. Tahun Baru Islam, yang berakar pada peristiwa hijrah, menekankan transformasi internal, introspeksi diri (muhasabah), dan solidaritas umat. Dengan menyoroti kontras ini, pembaca diajak memahami bahwa Muharram bukan hanya tanggal di kalender, melainkan tonggak spiritual dan budaya yang mendalam.
Ingin tahu sejarah Muharram sebagai Tahun Baru Islam? Temukan asal-usul, makna, dan keutamaannya di sini. Panduan lengkap sejarah Muharram dan tradisi Tahun Baru Islam.
Latar Belakang Penetapan Kalender Hijriah
Pada masa Khalifah Umar bin Khattab, kebutuhan akan sistem penanggalan resmi semakin mendesak. Wilayah kekuasaan Islam yang luas dan administrasi negara menuntut adanya kalender yang seragam. Oleh karena itu, Umar mengadakan musyawarah dengan para sahabat terkemuka seperti Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, dan lainnya.
Peran Sentral Khalifah Umar bin Khattab dan Ali bin Abi Thalib
Khalifah Umar bin Khattab menjadi inisiator penetapan kalender Hijriah. Dalam musyawarah, Ali bin Abi Thalib mengusulkan agar peristiwa hijrah dijadikan patokan awal tahun. Saran ini diterima karena hijrah dianggap sebagai titik balik kemenangan dan transformasi umat Islam.
Alasan Pemilihan Peristiwa Hijrah dan Bulan Muharram
Walaupun hijrah secara fisik terjadi di bulan Rabiul Awal, Muharram dipilih sebagai bulan pertama. Alasannya, niat dan persiapan hijrah dimulai setelah Dzulhijjah, tepat saat memasuki Muharram. Selain itu, Muharram adalah bulan suci yang sudah lama dikenal masyarakat Arab. Dengan demikian, penetapan ini menanamkan filosofi spiritual yang mendalam dalam sejarah Muharram.
Makna dan Keutamaan Bulan Muharram
- Muharram sebagai Salah Satu Bulan Haram
Muharram adalah salah satu dari empat bulan suci (asyhurul hurum) bersama Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Rajab. Pada bulan-bulan ini, umat Islam dianjurkan memperbanyak amal kebaikan dan menjaga perdamaian. Selain itu, Muharram juga dikenal sebagai “Syahrullah” (bulan Allah), menandakan keistimewaannya. - Keutamaan Puasa dan Hari Asyura
Nabi Muhammad SAW menganjurkan puasa sunnah di bulan Muharram, khususnya pada hari Asyura (10 Muharram). Pada hari ini, banyak peristiwa besar terjadi, seperti diselamatkannya Nabi Musa AS dari Firaun. Puasa Asyura diyakini dapat menghapus dosa setahun yang lalu.



