Apa itu Lavender Marriage? Dampak dan Sejarahnya
Lavender marriage adalah pernikahan antara seorang pria dan wanita di mana setidaknya salah satu pasangan memiliki orientasi seksual homoseksual atau biseksual. Pernikahan ini bukan didasarkan pada cinta, tetapi lebih pada tekanan sosial dan kebutuhan untuk menyembunyikan identitas seksual demi menjaga reputasi di masyarakat. Istilah “lavender” sendiri mencerminkan warna yang sering dikaitkan dengan komunitas LGBTQ+.
Lavender marriage banyak terjadi karena kurangnya penerimaan terhadap komunitas LGBTQ+, terutama di masa lalu ketika keterbukaan mengenai orientasi seksual hampir mustahil dilakukan. Meskipun telah ada kemajuan dalam hal penerimaan, praktik ini masih terjadi di beberapa masyarakat yang konservatif.
Sejarah Lavender Marriage
Konsep lavender marriage dapat ditelusuri hingga awal abad ke-20, sebelum Perang Dunia II, terutama di kalangan selebritas Hollywood. Pada masa itu, menjadi seorang homoseksual di industri hiburan bisa merusak karier, sehingga banyak aktor dan aktris memilih untuk menikah demi menjaga citra mereka. Salah satu contoh terkenal adalah pernikahan aktor Cary Grant dengan aktris Virginia Cherrill, yang diyakini sebagai contoh lavender marriage.
Seiring berjalannya waktu, perubahan sosial yang terjadi pasca Kerusuhan Stonewall pada 1969 membawa pergeseran sikap terhadap komunitas LGBTQ+. Kerusuhan tersebut menjadi titik balik bagi perjuangan hak-hak LGBTQ+, yang memungkinkan lebih banyak individu untuk terbuka tentang orientasi seksual mereka. Meskipun lavender marriage mulai berkurang di beberapa negara yang lebih liberal, praktik ini masih ditemukan di tempat-tempat di mana stigma terhadap hubungan sesama jenis masih kuat, seperti di Asia Selatan dan beberapa negara Asia lainnya.
Alasan Terjadinya Lavender Marriage
Ada beberapa alasan mengapa lavender marriage terjadi, antara lain:
-
Menyembunyikan Identitas Seksual Bagi banyak individu LGBTQ+, tekanan sosial membuat mereka merasa perlu untuk menyembunyikan orientasi seksual mereka. Lavender marriage menjadi solusi untuk melindungi diri dari diskriminasi.
-
Perlindungan dari Tekanan Sosial Lavender marriage juga dapat menjadi perisai bagi individu LGBTQ+ untuk menjalani kehidupan sesuai harapan masyarakat tanpa mengungkapkan identitas asli mereka.
-
Menyembuhkan “Ketidaknormalan” Beberapa masyarakat masih meyakini bahwa menikahi lawan jenis dapat menyembuhkan homoseksualitas. Pandangan ini, meski keliru, seringkali menjadi dasar lavender marriage.
Dampak Lavender Marriage
Pernikahan yang tidak dilandasi cinta ini menghadirkan serangkaian tantangan dan dampak bagi pasangan yang terlibat, seperti:
-
Tekanan Emosional Individu dalam lavender marriage harus menghadapi konflik antara keinginan pribadi dan tuntutan sosial. Konflik batin ini sering kali menyebabkan stres, kecemasan, hingga depresi, dan dapat berdampak buruk pada kesehatan mental mereka.
-
Ketidakpuasan dalam Hubungan Kurangnya keintiman emosional dan fisik dalam lavender marriage menyebabkan ketidakpuasan yang mendalam, membuat hubungan terasa hampa dan sulit dipertahankan.
-
Isolasi Sosial Menyembunyikan jati diri membuat individu merasa terasing dari komunitas LGBTQ+ dan dunia heteroseksual, sehingga menciptakan perasaan kesepian yang mendalam.
-
Masalah Hukum Jika terjadi perceraian, pasangan lavender marriage mungkin harus menghadapi tantangan hukum seperti pembagian aset dan hak asuh anak, yang semakin diperumit oleh tekanan untuk menjaga privasi.
Lavender marriage mencerminkan cara individu beradaptasi dengan norma sosial dan tekanan yang menolak keberagaman orientasi seksual. Meskipun penerimaan terhadap komunitas LGBTQ+ semakin meningkat di banyak negara, lavender marriage masih terjadi di tempat-tempat dengan stigma kuat terhadap hubungan sesama jenis.



