Cara mengatasi kemarau
Ketika musim hujan datang, air harus dimanfaatkan dengan maksimal untuk mengatasi kekeringan saat kemarau. Salah satu caranya adalah dengan meningkatkan pembuatan embung dan waduk serta menutup permukaan tanah dengan vegetasi.
Penyimpanan Air di Dalam Tanah
Tanah memiliki kapasitas untuk menyimpan air di dalam pori-porinya. Durasi penyimpanan air ini dipengaruhi oleh ukuran pori tersebut. Semakin besar porinya, semakin banyak air yang dapat disimpan, tetapi air juga lebih mudah hilang karena gravitasi.
Kemampuan tanah untuk menyimpan air lebih lama dan lebih banyak akan meningkat jika tanah tersebut tertutup rapat oleh vegetasi dan memiliki kandungan bahan organik yang tinggi. Bahan organik ini berasal dari sisa tanaman dan organisme lain yang telah mengalami dekomposisi, terdiri dari humus dan non-humus. Bahan organik tanah memiliki kemampuan mengikat air.
Jika kadar bahan organik tanah rendah dan penutup tanaman jarang, maka air yang tersimpan menjadi sedikit dan tanah akan cepat kering. Penggunaan tanah yang tidak ramah, seperti menguras bahan organik tanah, membuat tanah tidak mampu lagi menyimpan air saat hujan.
Kekurangan bahan organik membuat permukaan tanah menjadi lemah saat hujan turun. Air tidak bisa masuk dan tersimpan dalam tanah, malah menjadi air limpasan. Saat kering, tanah cepat kehilangan air.
Meningkatkan bahan organik melalui pengembalian sisa tanaman dan pemberian kompos merupakan salah satu cara untuk membuat tanah lebih banyak menyimpan air. Jangan biarkan tanah telanjang tanpa tanaman penutup. Bagi petani, sebaiknya tidak membakar lahan terutama lahan gambut, untuk membuka lahan.
Faktor Penyebab Kemarau
Kemarau dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait yaitu suhu, karakteristik hujan, angin, kelembapan udara, dan waktu. BMKG telah menunjukkan lima fenomena yang mempengaruhi keragaman iklim/musim di Indonesia.
Dua fenomena utama adalah El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang bersumber dari wilayah Ekuator Pasifik Tengah dan Indian Ocean Dipole (IOD) yang bersumber dari wilayah Samudera Hindia barat Sumatra hingga timur Afrika. El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudera Pasifik meningkat, yang menyebabkan musim kemarau yang panjang.Fenomena regional seperti sirkulasi angin monsun Asia-Australia, Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (Inter-Tropical Convergence Zone, ITCZ) yang merupakan daerah pertumbuhan awan, serta kondisi suhu permukaan laut di sekitar wilayah Indonesia juga berpengaruh terhadap musim kemarau.
Pola, intensitas, dan jumlah curah hujan juga dipengaruhi oleh perubahan iklim. Penelitian menunjukkan bahwa rata-rata suhu udara minimum dan maksimum di Indonesia telah meningkat dari 0,18 sampai 0,30 °C per dekade. Meskipun peningkatan ini masih di bawah ambang batas yang berbahaya (2°C), fakta ini cukup mengkhawatirkan. Musim kemarau tahun ini diprediksi lebih panas daripada musim kemarau sebelumnya.Meski di beberapa daerah intensitas curah hujan meningkat selama 10 tahun terakhir, banyaknya curah hujan berkurang disertai meningkatnya jumlah hari kering yang berturut-turut (4,2 hari).
Masalah kekeringan semakin rumit karena banyak petani dan perusahaan membuka lahan dengan cara tebang dan bakar di Indonesia, terutama pada lahan basah dengan vegetasi alami pada hutan rawa gambut seperti di Riau, Sumatra Selatan, Jambi, dan Kalimantan. Pembakaran hutan rawa gambut dilakukan saat musim kemarau ketika air surut dan tanaman mengering. Ketika kekeringan melanda lahan gambut, akan memicu api besar yang cepat menyebar. Kebakaran lahan gambut di Sumatra pada 1997-1998 menghanguskan hutan hingga 11 juta hektare, merusak ekosistem, dan menghancurkan biodiversitas.
Setelah kekeringan dan kebakaran, lahan gambut sulit pulih dan fungsinya sebagai penyimpan cadangan air menipis bahkan musnah. Selain faktor alam, manusia juga berkontribusi pada kemarau karena pembakaran lahan gambut dan perilaku yang mendorong perubahan iklim yang semakin panas. Kini kita merasakan dampaknya: kekeringan saat curah hujan sedikit dan banjir saat hujan deras. Ada dua musim di Indonesia: penghujan dan kemarau. Musim kemarau identik dengan kekeringan yang menghadirkan berbagai masalah, terutama bagi masyarakat pedesaan dan petani.
Persiapan Menghadapi Musim Kemarau
Menjelang akhir Juli 2021, beberapa tempat di Indonesia memasuki puncak musim kemarau. Di Jawa Tengah, dua kabupaten yaitu Purbalingga dan Banjarnegara akan segera memasuki penghujung musim kemarau. Kepala Stasiun Geofisika BMKG Banjarnegara, Setyoajie Prayoedhi, memperkirakan puncak kemarau juga akan terjadi di Kebumen, Cilacap, dan Banyumas.
Setyoajie menghimbau masyarakat untuk mewaspadai dampak buruk musim kemarau, termasuk krisis air bersih dan potensi kebakaran hutan serta lahan. Pakar Hidrologi dan Sumber Daya Air Universitas Jenderal Soedirman, Yanto, Ph.D., menekankan pentingnya memperkuat mitigasi bencana kekeringan.
Mitigasi bencana adalah upaya mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Berikut adalah beberapa cara mempersiapkan diri jelang musim kemarau:
-
Membuat Tandon Air
Tandon air berfungsi menampung air saat hujan yang bisa digunakan saat kemarau. Kapasitas air tergantung luas tandon. Semakin besar, semakin banyak air yang tersimpan.
-
Menutup Tandon Air
Jika menggunakan penampungan air portable seperti ember, tutuplah agar air tetap bersih dari debu dan benda yang jatuh.
-
Bijak Menggunakan Air
Pemantauan penggunaan air di rumah penting untuk mencegah pemborosan. Pastikan tidak ada keran yang bocor atau penampungan air yang meluber.
-
Hindari Membakar Sampah
Musim kemarau identik dengan kekeringan. Hindari membakar sampah atau ranting pada siang hari karena angin kencang dapat memicu kebakaran besar.
Dengan mempersiapkan diri sejak dini, kita bisa mengurangi dampak buruk musim kemarau dan menjaga ketersediaan air bersih serta mencegah kebakaran lahan. Mari bijak dalam menggunakan air dan menjaga lingkungan demi masa depan yang lebih baik.



